Suatu saat kita akan bertemu zaman yang menggembirakan kita. Saat
itu kita akan lupa penderitaan kita seluruhnya.
عن انس, قال:قال رسول الله:((
يؤتى بأنعم اهل الدّنيا من أهل النّار يوم القيامة, فيصبغ في النّار صبغة, ثمّ
يقال:يا ابن آدم, هل رأيت خيرا قطّ؟ هل مرّ بك نعيم قطّ؟ فيقول: لا والله يا ربّ,
ويؤتى بأشدّ النّاس بؤسا في الدّنيا من أهل الجنّة فيصبغ صبغة في الجنّة, فيقال
له: يا ابن آدم, هل رأيت بؤسا قطّ؟ هل مرّ بك شدّة قطّ؟ فيقول: لا والله ما مرّ بي
بؤس قطّ, ولا رأيت شدّة قطّ)) رواه مسلم
Lalu, seberapa menarikkah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal “Kita istirahat saat kaki kita sudah menepak jannah Allah Ta’ala dan neraka
sudah di belakang kita.” Sungguh jawaban seorang pejuang islam. Jawaban yang tak akan terpikirkan oleh para pencari dunia.
Namun musuh terbesar kita, iblis la’natullah ‘alaih beserta
antek-anteknya, sudah pasti akan menghalangi kita untuk sekedar beristirahat
nyaman di jannah Allah Ta’ala. Mereka tidak ingin kita memandang ajaran mereka
sebelah mata.
ولن ترضى عنك اليهود ولا النّصرى
حتّى تتّبع ملتهم قل إنّ هدى الله هو الهدى ولئن اتبعت أهوَآءهم بعد الذى جَآءك من
العلم ما لك من الله من وليّ ولا نصير﴿البقرة:۱۶۰﴾
Setiap langkah yang kita pijakkan di dunia ini sungguh merupakan rangkaian
pilihan. Saat kita melangkah sebenarnya kita sedang berada di antara dua jalan.
Baik atau buruk.
فأمّا من أعطى وﭐتّقى◌ وصدّق بالحسنى◌
فسنيسّره لليسرى◌ وأمّا من بخل وﭐستغنى◌ وكذّب بالحسنى◌ فسنيسّره للعسرى◌ ﴿الليل:۵-۱۰﴾
إنّا هدينٰه السّبيل إمّا شاكرا و
إمّا كفورا ﴿الإنسان:۳﴾
Kalau setan yang menang, kita akan mengikuti jalan keburukkan. Kalau
kita mengikuti jalan Allah, maka kita tidak sedang tersesat.
Istiqomahlah yang menjadi kunci penting di mana kita akan berhenti
nanti. Istirahat di jannahkah atau merintih kesakitankah kita di neraka. Sebab,
kita hari ini adalah kumpulan kebiasaan kita pada zaman sebelumnya. Dan kita
yang akan datang adalah kumpulan kebiasaan kita saat ini. Jika kita biasa
melakukan kebaikan ikhlash karena mengharap ridho Allah, maka in syaaAllah kita
akan memiliki akhir yang baik dan tempat berhenti yang mulia.
Seorang ustadz pernah menyatakan kalau kita melakukan pekerjaan
yang sama selama 40 hari, pekerjaan itu akan menjadi kebiasaan. Bahkan, ustadz
lain menyatakan bahwa kita bisa mengatur kebiasaan baik selama 21 hari, setelah
itu(jika istiqomah), maka kebiasaan baiklah yang akan mengatur kita.
Istiqomah menjadi sangat penting tatkala Rasulullah menjawab
pertanyaan sahabat beliau
عن أبي عمرو، وقيل: أبي عمرة
سفيان بن عبد الله، قال: قلت: يا رسول الله، قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه
أحدا غيرك. قال: ((قل آمنت بالله ثمّ ﭐستقم)) رواه مسلم.
Jika sekarang seseorang sedang malas, hendaknya ia berusaha melawan
nafsunya dan bersemangat. Semoga Allah jadikan hidupnya terang benderang sampai
ia benar-benar memijak tanah jannah.